Bagi publik sepakbola nasional nama Persija sudah ditasbihkan sebagai salah satu klub besar di tanah air. Dari masa ke masa nama besar Persija selalu menjadi magnet kuat di percaturan sepakbola kita. Segudang reputasi dan pemain hebat menjadi garansi nyata klub berjuluk Macan Kemayoran ini. Namun, beberapa hari ini ketenangan dan nama besar Persija sedang terusik hebat. Masalah demi masalah tengah menghantam tim kebanggaan The Jakmania ini. Persija di ujung tanduk!
Di Penghujung bulan Juli lalu, sebuah berita menghebohkan mencuat di persepakbolaan nasional. Salah satu klub beken bernama Persija dinyatakan terancam bubar dan siap meninggalkan hingar bingar percaturan liga Indonesia. Ada apa dengan Persija?
Penggusuran Stadion Menteng beberapa waktu lalu oleh Pemprov DKI Jakarta, diyakini sebagai penyebab kuat keluarnya keputusan ’konyol’ ini. Buntut penggusuran Stadion bernilai sejarah tersebut tidak hanya menjadi ’masalah’ pelik di tubuh Persija. Namun kejadian ini pun telah menjadi masalah nasional.
Semua insan sepakbola serempak berkomentar miring atas tindakan penggusuran itu. Bahkan Menegpora Adhyaksa Dault dan anggota DPR pun konon akan mempermasalahkan keputusan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang dianggap sebagai otak dari semua ini.
Di mata pengurus Persija penggusuran Stadion Menteng merupakan bentuk penghinaan terhadap sejarah klub ibokota ini. Selain menyalahi aturan, penggusuran Stadion yang rencananya akan dirubah menjadi taman kota ini tidak sesuai dengan aspirasi para anggota dan pengurus Persija. Mereka merasa selama ini tidak pernah diajak berdiskusi mengenai permasalahan ini.
Segala aksi menentang penggusuran itu dinilai lain oleh Gubernur Sutiyoso. Dalam sebuah statementnya, Sutiyoso menyebutkan bahwa pengurus Persija hanyalah sekumpulan preman yang takut kehilangan lahan dan hanya mencari keuntungan di Persija.
Kontan ucapan Sutiyoso yang dirasa memojokkan mereka dianggap sebagai pernyataan perang terhadap Persija. Tak lama setelah kejadian penggusuran dan ’ucapan penghinaan’ terlontar, langsung ditindaklanjuti oleh pengurus Persija dengan mengadakan rapat intern seluruh anggota dan pengurus Persija membahas kelangsungan eksistensi Persija.
Dalam rapat itu pula akhirnya keluar keputusan amat pahit bahwa Persija terancam dibubarkan. Pada opsi pertama, diputuskan kompetisi intern Persija dibubarkan. Keputusan meluas hingga rencana pembubaran tim profesional Persija di ajang Liga Indonesia. Waw secepat itukah?
Rasa ’sakit hati’ para pengurus Persija yang merasa dipojokkan kubu Bang Yos menjadi alasan utama untuk membubarkan Persija. Penilaian orang selama ini tentang Persija yang terlihat adem ayem tanpa masalah di bawah kepemimpinan Bang Yos selaku pembina Persija luntur sudah. Orang awam pun kini bisa melihat bahwa di tubuh klub yang berdiri sejak 1928 ini sebenarnya terdapat dua kubu yang bersebrangan. Jelas sudah, prahara yang kini dialami Persija semata-mata karena sebuah konflik kepentingan.
Sebelumnya -
Hal ini dapat dilihat saat jumpa pers di kantor PSSI, Jakarta Minggu (30/7). Pada saat itu, Sekertaris Umum Persija, Biner Tobing berujar, ”kami yang memberi mandat kepada ofisial klub Persija pada awal kompetisi lalu sehingga kami juga berhak mencabut kembali mandat tersebut”.
Ofisial yang dimaksud adalah ketua Pengelola Persija Firman Hutajulu, Wakil Ketua Pengelola IGK Manila, dan manajer Persija sekarang Dharmawan Eddie. Biner Tobing menambahkan bahwa orang-orang yang dimaksud adalah orang titipan Gubernur, bukan pengurus atau pemilik klub yang mengikuti kompetisi internal Persija.
Jika ancaman tersebut jadi mereka wujudkan maka akan ada konsekuensi hukum terhadap keikutsertaan Persija dalam kancah kompetisi resmi PSSI.
***
Tak dinyana, polemik yang terjadi di tubuh Persija sedemikian hebat hingga keluar pernyataan pembubaran Persija! Sebuah keputusan yang dinilai amat terburu-buru tanpa memperhitungkan efek ke depannya.
Semudah itukah pembubaran sebuah klub bisa dilakukan? Dalam sebuah organisasi pasti semua mempunyai AD/ART masing-masing. Apakah hal itu sudah sesuai dengan AD/ART yang ada di tubuh Persija?
Secara de jure mungkin keputusan tersebut sah-sah saja, karena mereka kewenangan untuk melakukannya. Namun secara de facto, sepertinya tak segampang yang mereka duga. Banyak hal yang perlu difikirkan secara matang sebelum menetapkan sebuah keputusan. Hanya karena sebuah ’kepentingan’ suatu golongan semata, mereka harus mengorbankan kepentingan orang banyak. Sungguh memprihatinkan..
Jika hal ini benar-benar terjadi siapakah yang akan dirugikan? Yang pertama tentu saja, The Jakmania. Pengorbanan The Jak selama ini menjadikan Persija sebagai tim yang juga (bisa) memiliki pendukung fanatik dari nol hingga banyak seperti saat ini jelas menjadi pihak pertama yang merasa terluka.
Tak beda dengan The Jak, para mantan pemain (dulu hingga kini) yang telah ikut mengharumkan nama Persija juga akan merasa ’sakit’. Belum lagi warga Jakarta yang telah menganggap Persija sebagai salah satu icon kota Jakarta. Selain itu para pecinta sepakbola nasional pun pasti tak rela jika Persija harus bubar.
Persija adalah tim besar yang sangat disayangkan jika harus menjadi korban dari perseteruan antar golongan yang hanya mencari keuntungan semata. Kita semua berharap para penggede yang terhormat bisa menghilangkan egonya masing-masing demi menyelamatkan nasib Persija.
Kini intinya bukan siapa yang memulai duluan. Tapi, yang lebih penting adalah bagaimana masing-masing pihak yang bertikai bisa duduk satu meja menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin. Percayalah keputusan terbaik dapat dihasilkan. Seperti pepatah, Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan! Semoga ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar