persija macan kemayoran..persija demi kemenangan..persija demi kejayaan..the Jak menyertaimu.

Rabu, 23 Juni 2010

Happy Bday JAKARTA 483thn


Bulan juni jakarta punya hajat. tepat tanggal 22 ibu kota negeri kita itu akan merayakan hari jadinya yang ke-483. sebagai salah satu penghuninya, jakarta merupakan kota yang menarik. karena di kota ini, kesempatan begitu terbuka. baik kesempatan melesat tinggi ke awan, atau terperosok ke keadaan paling hitam yang tak pernah terbayangkan.

sampai kini, kota ini masih menjadi magnet mayoritas penduduk daerah untuk mengadu nasib. termasuk aku. pertama kali ke jakarta aku menumpang kereta senja utama. di pagi buta itu aku memijakkan kaki di stasiun gambir. dan orang pertama yang aku lihat melintas adalah pemulung.

ironis, di bawah terang benderang lampu jalanan dan gedung-gedungnya yang menjulang tampak laki-laki tua telanjang kaki mengais-ngais sampah di pinggir jalan. benarkah sekeras itu ibu kota? aku masih berharap ibu kota lebih kejam dari ibu tiri yang sering aku dengar tak terbukti.

seperti cerita di film-film indonesia tahun 80an, segera aku mencari lowongan kerja. tiap pagi aku membeli beberapa koran sekaligus. dengan spidol merah, aku menandai lowongan mana yang sekiranya menarik. berangkatlah aku senin pagi itu ke sebuah alamat di jalan batu tulis raya no 52, jakarta pusat.

ternyata aku tak sendiri. di sana telah berjubel banyak orang yang mengantri. surat lamaran kertas folio yang aku tulis semalam tak terpakai, aku harus membeli formulir yang telah di tentukan. dan formulir yang sudah diisi itu harus dikembalikan pada hari kami kamis. pada hari yang di tentukan itu aku kembali, sampai di sana kantornya sudah bubar.

pengalaman itu tak membuatku menyerah. karena karena aku yakin, kota ini tetap akan memberi peluang bagi yang menginginkan. dan terbukti sampai sekarang aku tak pernah berkeinginan untuk pulang. aku terlanjur menikmati apa yang di tawarkan. di kota yang dihuni 13 jutaan orang ini aku menemukan suasana yang pas.

di kota ini aku bisa menjadi anonim, tak ada orang lain yang mengenaliku. di sini juga aku tak perlu berbasa-basi berperilaku sesuai standar orang baik-baik. di tempat baru ini aku senang karena tak ada orang yang mempedulikanku. termasuk ketika merayakan ulang tahun dengan jalan kaki di hujan deras karena kecopetan.

di tengah-tengah kemacetan yang mendera, diantara banjir yang tiap bulan melanda jakarta tak pernah menyurutkan setiap penghuninya untuk menyemai mimpi-mimpinya. semua orang berlomba-lomba untuk segera lebih dulu mewujudkannya. selamat ulang tahun jakarta, kerak telor dan musik tanjidor memeriahkan keberadaanmu.

Sumber : JAK mania

Minggu, 13 Juni 2010

Ucapan Selamat dari Cirebon


Saya masih ingat dan akan selalu mengingat, saat itu saya masih menjadi pendukung BR (Bandung Raya, Red) dan pada waktu itu saya sedang menyaksikan Semifinal Liga Indonesia tahun 1996 antara kesebelasan Bandung Raya melawan Mitra Surabaya di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta.

Waktu itu secara kebetulan saya duduk berdampingan dengan seorang bapak warga Jakarta yang hadir untuk menyaksikan laga semifinal ini dan beliau mengaku sebagi pendukung dari kesebelasan Persija Jakarta, singkat cerita dalam obrolan singkat saya dengan Bapak tadi, beliau mengungkapkan keprihatinannya kenapa di kota sebesar Jakarta dengan jumlah penduduknya yang mencapai jutaan orang tetapi dukungan terhadap kesebelasan Persija dinilainya sangatlah minim, beliau mengungkapkan bahwa Stadion Menteng di Jakarta Pusat sebagai kandang Persija Jakarta yang berkapasitas tidak lebih dari 8000 orang bahkan sering terlihat kosong saat Persija berlaga disana, malahan beliau selalu melihat orang-orang daerah/kaum pendatanglah yang sering kali berpesta dan berbuat ulah seenaknya di kota Jakarta, beliau selalu memimpikan agar suatu hari nanti, Persija juga mempunyai basis pendukung yang fanatik, militan dan loyal seperti halnya pendukung dari kota-kota lainnya di Indonesia, sayang obrolan kami harus terhenti dan dipisahkan oleh tragedi gas air mata yang memilukan saat itu kerena terjadi kerusuhan di partai semifinal tersebut.

Namun ternyata harapan dari sang Bapak tersebut tidak sampai menunggu begitu lama, karena impian bapak tersebut benar-benar terwujud setelah setahun kemudian tepatnya tanggal 19 Desember 1997 atas kerja keras beberapa orang yang mencintai Persija, berdirilah THE JAKMANIA yang tujuan awalnya adalah sebagai wadah untuk mempersatukan para pecinta Persija Jakarta yang sekarang sudah tumbuh menjadi salah satu kelompok supporter besar dan segani di negeri ini karena terkenal dengan kefanatikannya, kreatif, loyal, militan dan cerdas namun tetap sportif dalam mendukung team Persija .

Harapan saya semoga THE JAKMANIA semakin kompak dan bersatu dengan menghindari konflik-konflik yang tidak perlu diantara sesama Pecinta Persija yang hanya membuat THE JAKMANIA menjadi tercerai berai.

Akhir kata Selamat Ulang Tahun yang ke -12 buat THE JAKMANIA dari kami orang Cirebon yang mencintai Persija..

HIDUP PERSIJA JAKARTA!!
By Orange Hitam - Cirebon.

Pertandingan Kandang Seperti Pertandingan Tandang


Dalam ulasan kali ini Crew JO sengaja tidak membahas masalah jalannya pertandingan secara mendetail, karena semua sudah bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana jalannya pertandingan tersebut yang dari informasi yang didapatkan JO jumlah penonton pada pertandingan Persija Vs Arema (30/05/10) memecahkan rekor jumlah penonton terbanyak di ISL musim ini, sebanyak kurang lebih 84 rbu orang memadati GBK, belum lagi yang menonton siaran langsung.

Dari sisi jalannya seluruh rangkaian mulai dari penyediaan tiket, keadaan kedua pihak supporter yang menjadi bahasan yang enak buat di bahas. Sejauh mata Crew JO memandang dari area meliput di lapangan warna biru yang mendominasi, sempat berdiskusi sedikit dengan Crew JO yang lainnya (kebetulan kami berdua yang meliput pada pertandingan ini), ini Jakarta apa Malang? Atau jangan – jangan Kanjuruhan pindah ke sini?, begitulah kira – kira cuplikan keheranan kami melihat keadaan GBK sore itu (30/05/10).

Tidak heran kenapa situasi ini bisa tercipta, karena berhembus kabar dari pihak Aremania sudah melakukan Down Payment (Panjer) atas tiket yang akan di distribusikan kepada Aremania yang datang ke GBK. Okelah kalo memang mau mencari keuntungan tidak masalah, karena memang sepakbola sangat dinamis untuk bisa dijadikan sebuah industri bisnis, tapi ya harusnya lebih diperhatikan juga Panpelnya kan Panpel Persija, maen di Jakarta, yang maen Persija kenapa jadi yang diberi keistimewaan supporter team tamu?

Jangan hanya cari untung semata, perhatikan ratusan bahkan ribuan supporter tuan rumah yang notabene harusnya menjadi raja di rumahnya sendiri harus susah payah buat cari tiket, jam 12 siang tiket dinyatakan sudah habis, tidak semua tiket dijual di loket. Mirisnya terjadi penjualan tiket yang dilakukan oleh supporter tamu.

Ada lagi yang terlihat supporter tamu seperti dengan santainya menempati tribun wartawan dan VIP, tidak ada reaksi sama sekali dari panpel, padahal hal sebaliknya akan dilakukan oleh panpel apabila ada ketauan supporter tuan rumah yang loncat ke tribun tersebut pada pertandingan lain. Selain itu pada babak kedua terlihatnya penonton supporter tamu yang membludak sampai ke pinggir lapangan sisi selatan hingga menerobos masuk ke area dekat obor.

Walaupun pihak keamanan berusaha dengan sangat untuk mentertibkan mereka semua sia – sia karena jumlah mereka yang seperti tidak ada pembatasan kuota oleh panpel sehingga banyak sekali mereka datang dari kota asalnya. Sampai pada akhir wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan dengan skor 1-5 untuk kemenangan Arema supporter tamu berhamburan masuk ke lapangan.

Karena ketidaksigapan Panpel juga akhirnya dengan sangat terpaksa banyak suporter Persija yang jebolan di trbun atas, padahal kami yakin suporter Persija masih mampu untuk membeli tiket pertandingan, namun yang terjadi dilapangan tiket sangat langka didapatkan oleh suporter tuan rumah. Ada lagi yang sudah mempunyai tiket untuk kelas 1 karena di tribun tersebut sudah penuh oleh suporter tamu harus menonton di tribun atas, ironi.

Ada sedikit kemirisan yang kami rasakan dimana disaat team tamu mencetak gol, justru supporter tuan rumah seperti tidak kecewa ataupun sedih melihatnya malah asik ikut merayakan berjoget joget bersama, diluar keadaan dimana kedua supporter memang tidak ada masalah apapun, tapi ini menyangkut harga diri, kalian supporter siapa sebenarnya datang ke GBK sore itu. Padahal kami berdua tertunduk lesu saat kejadian itu.

Kenapa ini bisa terjadi? kenapa tidak ada kuota seperti yang dialami suporter Persija ketika hendak bertamu ke kandang lawan? Pertanyaan ini mungkin sama dengan apa yang dirasakan teman - teman suporter Persija yang lain melihat pertandingan tadi. Hendaknya ini menjadi catatan khusus buat panpel pertandingan Persija kedepannya.

Diluar dari kejadian itu semua kami mencatat secara keseluruhan supporter tuan rumah berhasil menjaga kedewasaannya untuk menahan diri dari tindakan yang bisa merugikan buat dirinya dan Persija tentunya, dan ada pengharapan yang sangat dari kami dan supporter Persija lainnya agar kejadian ketidaksigapan panpel dalam pertandingan ini tidak terulang dipertandingan selanjutnya

Untuk Persija kami tetap bangga padamu, dan akan selalu teriak dengan lantang PERSIJA…PERSIJA..PERSIJA..PERSIJA !!! SELAMANYA (ZNI – TITOV 2O - JO )
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 03 June 2010 )

Fenomena JAKMANIA


Bagi warga Jakarta, Jakmania adalah sebuah “kebanggaan” sekaligus sesuatu yang “menyebalkan”. Iya, Jakmania adalah supporter kesebelasan PERSIJA milik Kota Jakarta. Kebanggan karena begitu banyak dan kompak para supporter PERSIJA ini, dengan seragam dan atribut mereka yang berwarna oranye.

Mereka sangat kompak saat sebuah pertandingan sepakbola kesebelasan PERSIJA berlangsung. Mereka tanpa dikomando akan datang ke lapangan sepakbola memberi dukungan. Mereka masih muda. Mereka energik. Mereka semua oranye.

Menyebalkan karena mereka membuat macet Jakarta. Tidak valid juga apabila mereka disalahkan, karena tanpa adanya Jakmania pun, Jakarta tetap selalu macet! Tapi macet total-closed-loop-locked selama 3 jam malam Minggu kemarin saat pertandingan sepakbola PERSIJA di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, adalah sebuah fenomenal.

Fenomena sosial yang menarik diamati. Fenomena Jakarta. Fenomena Jakmania.
Karena gue tinggal di Jakarta Selatan, beberapa kali gue on location saat pertandingan PERSIJA berlangsung. Gue berbaur dengan Jakmania. Mungkin cuma gue yang tidak ber-oranye-narsis-mode-on-ria… hihihi…. Gue ada di sana memang ingin mengamati perilaku Jakmania ini.

Yang gue dapati adalah aura kekompakkan. Juga energi yang menyebar ke sesama Jakmania, yang gue yakin mereka tidak kenal satu sama lain. Aura murni tanpa kepentingan masing-masing pribadi. Semua untuk mendukung kesebelasan PERSIJA.

Aura mereka inilah yang ber-interference dengan aura gue. Membuat beberapa kali gue merinding: gue baru sadar ternyata banyak sekali potensi energi anak muda Jakarta ini! Potensi yang sayang sekali akan habis sia-sia selesainya pertandingan. Potensi yang seharusnya digali, diarahkan, dan disalurkan. Potensi untuk Jakarta yang lebih baik — tidak menutup kemungkinan untuk Indonesia yang lebih baik.

Maraknya demo-demo di Jakarta, tidaklah bisa disamakan dengan maraknya Jakmania. Energy generator untuk demo Jakarta adalah kepentingan. Adalah fulus. Adalah demo-by-order. Alih-alih demo Jakarta, maraknya Jakmania berbeda, energy generator mereka adalah kegiatan olahraga.

Gue jadi berandai-andai. Apabila PERSIJA bersama Dinas Sosial PEMPROV DKI Jakarta bisa bekerja sama, membuat beberapa program untuk melakukan leverage dari energi Jakmania ini, maka gue yakin Jakarta akan menjadi lebih baik.

Gue berandai-andai. Apabila kesebelasan PERSIJA yang berjumlah 11 orang plus cadangan — asumsi misalkan 20 orang — didukung dana Dinas Sosial untuk menyewa 10 lapangan Futsal tiap akhir minggu. Masing-masing lapangan Futsal akan didatangi 2 pemain PERSIJA untuk berlatih bersama dengan Jakmania. Agar tidak campur aduk, tiap minggu hanya 10 kelurahan di Jakarta mendapatkan “jatah” latihan Futsal Jakmania-PERSIJA.

Gue berandai-andai. Apabila ini dijalankan selama 1 tahun, maka Jakmania yang tersebar di 520 kelurahan di Jakarta akan merasakan latihan bareng PERSIJA.

Gue berandai-andai, para Jakmania akan merasa diperhatikan oleh PEMPROV DKI Jakarta melalui PERSIJA.

Gue berandai-andai, para Jakmania akan berperilaku lebih baik buat Jakarta. Lebih tertib. Lebih santun. Lebih oranye!

Gue jadi inget sebuah peribahasa:
Siapa menebar benih, dia akan menuai padi…
Siapa menebar angin, dia akan menuai badai…

Sumber : http://ihsankusasi.wordpress.com/2009/12/04/jakmania/

Apa Itu Orang Oren (O2)


Awalnya Aji Kemayoran sama Fahru Pondok Ungu punya keinginan tuk buka usaha di bidang penjualan merchandise Persija dan the Jakmania. Mereka bicara sama gw tuk minta pendapat. Nah, gw suka nih yang kaya gini. Kreatif dan punya semangat. Toh dengan produksi kaos, berarti juga membantu pemasalan dan sosialisasi Persija dan the Jakmania. Gw dukung! Kebetulan gw ada rejeki lebih, gw mau bantu tuk beli peralatannya. Produknya juga harus punya label nama kan? Gw usul namanya ORANG OREN. Kenapa ORANG OREN? Panjang nih filosofinya.

ORANG OREN jelas menunjukkan loyalitas pada Persija yg menggunakan kaos oren, meski kalo Persija kaosnya item gw ga bakalan bikin ORANG ITEM, tar dibilang rasis lagi. ORANG OREN secara tidak langsung mengkampanyekan suporter Persija tuk tetep menggunakan kaos oren yang memang sudah menjadi ciri khas Persija. ORANG OREN kalo disingkat jadi O2, yang bisa juga dilihat sebagai angka 02 (kosong dua). Angka itu adalah no anggota gw di the Jakmania. Jadi lengkap kan.

Sayang niatan kedua orang itu ga berlanjut. Gw tunggu lama tapi ga ada juga gerakan yg lebih serius tuk mewujudkan usaha ini. Sampai dateng yang namanya QQ dari KM37 Villa Pertiwi. Dia tertarik dengan konsep ini dan karena kebetulan dia jago gambar, dia coba kasi usulan beberapa gambar tuk jadi logo produk. Gw pilih yang sekarang karena bentuknya seperti orang sujud. Gw berharap ORANG OREN selalu ga lupa tuk bersujud, dalam arti tunduk pada Sang Pencipta sekaligus juga menunjukkan kerendahan hati. Adanya logo membuat semangat baru, QQ juga yg mendesain gambar2 di kaos O2. Aji yang bagian produksi. Dan alhamdulillah, produk2 O2 diterima oleh para the Jakers.

Anehnya ketika desain o2 baru ada 3 jenis, tiba2 muncul isu2 di kepengurusan the Jakmania kalo O2 itu adalah organisasi tandingan the Jakmania. Gw justru tau gosip ini dari tetangga gw di Lebak Bulus. Gw ngakak dengan gosip ini. Disatu sisi, gw heran maunya apa dengan orang yg pertama bikin isu ini. Tapi disisi lain justru ini promosi gratis buat kaos2 O2. Semakin sering diomongin semakin banyak orang yg nyari.

O2 jalan terus beriringan dengan gosip yg menerpa. QQ pernah bikin kaos dengan logo O2 besar sekali di dada. Awalnya gw nolak, karena gw ga pengen orang jadi lebih cinta O2 daripada Persijanya. Niat awalkan O2 tu memproduk kaos2 Persija dan the Jakmania. Tapi belakangan semakin banyak permintaan kaos yang berlogo O2 besar di dada. Hehehe, tuntutan pasar harus didengar juga. Akhirnya bermunculanlah kaos2 O2 di distro2 the Jakmania. Sampe detik ini Aji masih terus memproduksi merchandise berlabel O2.

Yang gw sayangin adalah sikap beberapa Pengurus yang mengambil sikap bermusuhan dengan O2. Kenapa? Kan O2 itu hanya label poduk kaos? Kalo emang ga boleh, kenapa yang laen boleh? Liat aje produk2 kaos seperti Stepmover, Biang Kerok dll.

Belakangan, atas permintaan temen2 korwil, diadakanlah forum di Stasiun Oren. Forum tsb tujuannya cuma menjadi jembatan komunikasi antara Manajemen TIm dengan Suporter Persija. Forum tsb awalnya cuma dihadiri segelintir orang. Sejalan dengan waktu makin banyak yang hadir disana untuk ikut dalam forum yang sebetulnya gw lebih suka menyebutnya sebagai 'obrolan warung kopi'. Tapi temen2 lebih sering menyebutnya sebagai 'kuliah'. Persis seperti ketika gw dulu mimpin pertemuan di Menteng saat gw menjabat sebagai Ketua Umum the Jakmania.

Awalnya forum itu cuma untuk ngobrolin perkembangan Persija. Tapi makin lama makin banyak yg dateng tuk tukar pikiran tentang aktivitas dan kreativitas mereka masing2. Seperti Ontel Oren, JakOnline, JakComic, JakPhotography, Tiger Boys, Orange Street Boys, JakMovie, Mental Baja dll. Selama itu ada manfaatnya untuk Persija, pasti gw dukung. Bukan cuma sekedar dukung dengan kata2, tapi gw juga coba membantu membesarkan kreativitas mereka agar bisa lebih diterima anggota. Toh semakin banyak komunitas ini, semakin banyak pula peluang kita untuk memperkenalkan Persija, dan pada ujungnya semakin banyak orang yang cinta sama Persija.

Belakangan malah beberapa kelompok juga hadir di Stasiun Oren tuk sekedar tuker pikiran bagaimana mengembangkan suporter Persija di wilayah masing2 sehingga mereka bisa mendirikan korwil the Jakmania. Hal kaya gini jelas gw suport banget. Meski tetap keputusan ada di tangan Pengurus Pusat di Sekretariat the Jakmania Lebak Bulus, tapi ga ada salahnya kan klo kita bantu memotivasi setiap orang yang ingin mengembangkan suporter Persija di kampungnya. Toh, di Stasiun Oren tidak pernah membuat sebuah keputusan, karena keputusan yang sah cuma dateng dari Pengurus Pusat.

Di Stasiun Oren juga banyak yang bukan anggota the Jakmania. Buat gw, adalah hak mereka tuk memutuskan menjadi anggota the Jakmania atau enggak. Yang penting gw cuma liat semangat mereka tuk dukung Persija. Memang ada kritikan dari oknum Pengurus yang bilang kalo bukan anggota kenapa pake fasilitas organisasi? Lah, bukannya kalo tur tandang ada harga khusus tuk yg bukan anggota? Demikian juga penjualan kaos di Sekret, ada harga anggota dan harga non anggota.

Ah, sayang sekali. Menurut gw, sikap oknum Penguruslah yang membuat terjadi pengkotak-kotakan di kalangan suporter Persija. Kenapa mereka harus kampanye negatif tentang O2? Apa mereka khawatir keberadaan O2 itu bisa mengganggu eksistensi mereka sebagai Pengurus? Kalo gitu introspeksi diri dong, apa yg kurang dari dirinya sendiri? Dulu gw bikin JAK ANGEL kaga ada yg protes? Gw bikin OREN SEJATI juga kaga ada yg protes? O2 tidak menyalahi aturan organisasi. Semua orang berhak tuk ngadain forum sendiri selama tidak mengatasnamakan organisasi. Kita tidak pernah bilang Stasiun Oren tu sekretariat the Jakmania. Kita juga tidak pernah mengeluarkan Kartu Anggota. Apa setiap orang yg ke Stasiun Oren trus mengajukan pendirian korwil ke O2? Tidak kan? Mereka semua mengajukan korwil ke Pengurus Pusat di Sekretariat Lebak Bulus. Harusnya mereka berterima kasih dengan motivasi yang kita berikan sehingga semakin banyak orang yang bersemangat tuk diriin korwil.

Ingat! Dalam AD/ART the Jakmania, disitu dikatakan Pengurus the Jakmania harus bisa menjadi jembatan antara Pengurus Persija, Pemain Persija dan Suporter Persija. Ingat! the Jakmania punya kewajiban untuk menghimpun dan menggalang suporter Persija.

Dulu, waktu irlan Garis Keras masih gw terima di Stasiun Oren, dia orang pertama yang bilang sama gw kalo dia dan seluruh Garis Keras menyatakan bergabung dengan O2! Gw ketawa dengernye. Gw tegasin lagi, kalo O2 itu bukan organisasi dan insya allah tidak akan pernah menjadi sebuah organisasi. Memang sekarang O2 berkembang menjadi sebuah komuntias. Wajar kan? Seperti komunitas Slankers, OI, dll. O2 hanya sekelompok manusia pecinta Persija yang ingin terus mengikuti perkembangan Persija, ingin terus mendekatkan diri pada Persija, dan ingin terus bersilaturahmi dengan sesama suporter Persija. O2 tidak pernah bertentangan dengan the Jakmania, karena sebagian besar dari O2 adalah anggota the Jakmania. O2 tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi, karena kami hadir dan kumpul disana cuma ngobrolin Persija. Silahkan orang laen menganggap kita berhianat pada organisasi.

Yang penting... KITA TIDAK PERNAH BERKHIANAT PADA PERSIJA..!

*diambil dari Notes Facebook Tauhid Indrasjarief

Jakmania Berbahasa Sunda


Di bagian belakang kaos Oji tertulis,"Warga Jakarta Wajib Dukung Persija." Padahal anak 15 tahun ini tinggal jauh di luar wilayah ibu kota.

Oji, 15 naik kereta Rangkas-Kota yang biasa dijuluki "kereta langsam" dari stasiun Citeras, tempat tinggalnya. Tujuannya hanya satu, mendukung Persija Jakarta, kesebelasan kesayangannya. Jumat (19/02/2010). Tim "Macan Kemayoran" akan menghadapi tim Sriwijaya FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan dalam lanjutan ajang Djarum ISL.

Tentu saja Oji tidak sendiri. Ratusan remaja sebayanya tumplek memenuhi 7 gerbong kereta Rangkas-Kota. Mereka mudah dikenali dengan gaya khas ABG: merokok, rambut dengan punk-look dan terutama, segala atribut berwarna oranye. Atau paiing tidak dengan nuansa oranye.

Selain topi bertanduk dengan aksen oranye dan hitam, para Jakmania ini juga muncul dengan kaos berwarna dasar oranye atau hitam dengan segala macam grafiti. Bunyi tulisan bisa bermacam-macam dari puja-puji terhadap klub kesayangan mereka, "Persija Macan 1928, Kebanggaanku," atau "Persija Forever."

Namun bunyi grafiti di kaos para pendukung fanatik ini bisa juga bersifat provokatif seperti tulisan "Viking and Bonek" yang ditandai dengan tanda silang. Atau juga "Wanted! Kill the Vikings, everywhere, anytime, always." Mengerikan memang. Viking adalah kelompok pendukung tim Persib Bandung, sementara Bonek adalah kelompok pendukung tim Persebaya Surabaya.

Fenomena ini memang bukan hal yang aneh di sepakbola nasional. Tim-tim sepakbola dianggap sebagai representasi dari kelompok masyarakat yang merasa dekat atau memiliki mereka. Persib Bandung secara historis sudah dianggap sebagai representasi masyarakat Jawa Barat, bahkan di luar Bandung. Begitu pun Persebaya menjadi representasi masyarakat Jawa Timur di luar Surabaya.

Tetapi para Jakmania pendukung Persija dari wilayah pinggiran bahkan agak jauh dari Jakarta memang menjadi suatu fenomena unik. Apalagi mengingat di wilayah pinggiran jakarta tersebut terdapat juga tim-tim sepakbola seperti Persita maupun Persikota Tangerang yang memiliki kelompok pendukung sendiri. Dan para Jakmania dari Rangkas harus melalui beberapa wilayah seperti Tenjo, Parung Panjang, Tangerang, Serpong, Kebayoran Lama sebelum mencapai wilayah Senayan.

Secara kultural pun, para pendukung "KRL langsam" ini berbeda dengan para Jakmania dari pusat kota seperti dari Cikini, Cilincing, Taman Sari, Tebet dll. Mereka lebih fasih berbahasa Sunda antarmereka, ketimbang ber "lu-lu, gue-gue," meski mereka mengenakan kaos bertuliskan,"Gue Anak Jakarta."

Oji, yang mengenakan kaos, "Warga Jakarta Wajib Dukung persija," hanya tersenyum saat ditanya mengapa dia sebagai anak Citeras merasa wajib mendukung tim ibu kota tersebut. Jawaban justru datang dari kumpulan teman-temannya yang duduk menggelosor di lantai kereta,"Bapak kita kan orang Jakarta, Pak. Tiap hari bolak balik naik KRL karena cari duit di Jakarta..."


Disadur dari KOMPAS ONLINE. Url : http://olahraga.kompas.com/read/2010/02/19/16582922/Jakmania.Berbahasa.Sunda

Kutancapkan Orangeku di Kota kembang


Saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi parahyangan, tepatnya Kota Bandung yang terlintas dalam benak pikiran adalah keluarga, pacar, teman dan tentu saja Persija Jakarta. Apa yang harus Saya lakukan di kota kembang ini kelak ketrika kejenuhan merasuki kehidupan kita. Memang suasana baru dan teman-teman baru akan menghiasi hidup kita kurang lebih empat tahun mendatang, itu pun kalo kita dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu, jika tidak tentu semakin lama kita berada di kota ini.

Sebagai mahasiswa baru tentu kita harus mengikuti ospek, memang setiap kampus memiliki gaya osepk yang berbeda-beda. Bahkan tiap jurusan dalam satu fakultas pun berbeda. Saya agak kaget ketika mendengar cerita teman Saya yang juga berasal dari Jakarta. Ia menceritakan bahwa, ia disuruh untuk menyanyikan sebuah lagu dengan lirik “ la la la The jak anjing, The Jak Anjing The Jak tai anjing”.Agak aneh memang mendengarnya, tetapi itulah fanatisme sepakbola di kota kembang, merasuk hingga ke kampus-kampus. Ketika saya berjalan menyurusi sekitar kampus banyak coretan di dinding yang bertuliskan “Fuck The Jak dan sebagainya”. Saya hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepala.

Awal-awal kuliah, saya lebih sering menonton Persija di balik layer kaca, namun seiring dengan berjalannya waktu bertemulah Saya dengan rekan seperjuangan Saya, sebut saja Reza namanya. Kami sering sekali bernyanyi bahkan bernyanyi bersama ketika Persija tampil di layar kaca. Uniknya walaupun di tempat kos kami ada beberapa anggota Viking, tetapi kami bisa saling menghormati. Hanya celaan yang bersifat becandaan saja yang sering terlintas diantara kami, selebihnya kami seperti saudara.

Di kampus mayoritas teman Saya, mengetahui bahwa Saya adalah The Jak Mania. Tidak jarang beberapa diantaranya mengolok-olok Saya, Persija dan Jak Mania tentunya. Namun hal itu tidak membuat saya merasa takut untuk tetap mendukung Saya. Malah dengan keadaan demikian banyak mahasiswa asal Jakarta yang ingin mendukung Persija bersama. Seperti kata pepatah “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, maka jumlah mahasiswa pecinta pun semakin banyak. Sejak saat itulah terbesit oleh kami untuk membentuk komunitas Jak Mania Bandung.

Sekilas memang konyol ide tersebut, tetapi itulah bentuk kecintaan kami terhadap Persija.

Untuk merealisasikan hal tersebut maka kami sepakat untuk membuat spanduk dan alhamduluillah spanduk Jak Mania Bandung berukuran 2 x 3 meter ini kahirnya bias terpampang di stadion lebak bulus. Kehadiran spanduk tersebut di layar kaca menimbulkan efek positif dan negative. Mau tau ? Efek negatifnya adalah kami sering mendapatkan terror baik lewat sms maupun dalam bentuk lainnya. Namun menurut saya yang paling menggelikan adalah terror dinding kelas. Ada coretan yang mengancam akan membunuh kami. Seperti ini tulisannya “Andi jurusan ilmu kesehatan masyarakat 2007, jangan harap ada The Jak di Bandung, Tunggu kematian kamu”. Sejak saat itu anggota kami terus bertambah. Mahasiswa asal Jakarta yang tadinya tidak peduli bahkan tidak tahu apa itu Persija dan Jak Mania, malah menaruh simpati pada kami dan kahirnya ada beberapa diantara mereka yang bergabung dengan kami.

Siapa bilang jakmania Bandung dihuni oleh orang Jakarta saja?, tetapi juga dihuni masyarakat asli Bandung. Sebut saja namanya Yanti. Yanti adalah seorang siswi kelas 2 di salah satu SMA di daerah cicaheum. Kamipun heran kenapan Yanti menyukai Persija. Bahkan perempuan ini juga pernah ikut tour ke Solo. Kami pun bertanya padadirinya, “ Kenapa Sih Yan, suka Persija, lo kan orang Bandung?” jawabannya simpel, “karena Persija tim bagus dan The Jak kreatif, karena nyanyi terus lagu yang dukung Persija”. Hanya perasaan haru yang terlintas di dalam pikiran kami saat itu, mengapa? karena tidak semua orang Jakarta merasa memiliki Persija, sedangkan seorang Yanti bisa menyukai Persija. aneh memang tapi itulah kehidupan, susah untuk diprediksi.

Kesedihan kami muncul disaat kami mengingat perkataan Yanti saat itu “ The Jak Kreatif karena nyanyi terus lagu yang dukung Persija ” Dalam hati kami saat ini, itu dulu. Sekarang sering kali The Jak menyanyikan lagu yang menghina tetangga sebelah. Terbesit dalam pikiran kami “Kapan ya kita nyanyi 2 x 45 menit secara full dengan menyanyikan lagu Persija?”

Ada cerita kocak lainnya selama kami mengibarkan bendera Jakmania dan Persija,. Peristiwa ituiterjadi ketika kami membuat kaos Jak Bandung pertama. ada awalnya kami berpikir, mungkin gak ya kita bikin baju di Bandung? secara The Jak dan Viking kan musuh. Setelah berembuk akhirnya kami membuat baju itu di Bandung. Kami tidak menyangka bahwa si pembuat kaos langsung meniyakan order kami. Bagian lucunya adalah ketika kami mengambil kaos itu, kami diikuti oleh beberapa orang berbaju biru. Alhamdulillah kami pun lolos dengan kehendak Allah.. Terima kasih y Allah. Mulus bagi kamu, tetapi tidak bagi si penjual kaos, kios milikinya di datangi oleh gerombolan berbaju biru yang memaksanya untuk memberikan informasi siapa yang membuat baju ini ? Namun karena si pembuat kaos professional, mereka pun merahasiakan siapa yang mengorder kaos jakmania bandung itu… heheheh terima kasih Bapak J

Dalam mejalankan roda komunitas ini kami mempunyai dua prinsip utama. Pertama, diam dan tidak menunjukkan identitas bukan suatu bentuk ketakutan. Kedua, identitas jak maia Bandung bukanlah sebuah prestise yang dapat dipamerkan, tetapi sebagai factor pemacu bagi rekan-rekan jakmania di daerah.-daerah luar Jakarta. Alhamdulillah sampai saat ini kami memgang teguh prinsip itu, kalaupun ada bagian kami yang melanggar itu hanya oknum.

Eksistensinya kami dalam mendukung Persija memang tidak seperti kalian yang setiap saat bisa datang ke Lebak Bulus atau Gelora Bung Karno ataupun mengikuti tour tandang keluar kota. Tentu saja ada beberapa factor yang menjadi alas an bagi kami seperti terbatas uang jajan, jadwal ujian dan kuliah yang padat serta hlangan dari pacar-pacar kami hehehehe Persija sampe pacaran (kidding). Namun Alhamdulillah selama niat dan usaha sejalan, maka goal akan tercapai. Alhamdulillah setiop Persija main di kandang selalu ada perwakilan yang datang, sedangkan untuk tour luar kota ada beberapa tour yang pernah kami ikuti seperti Putrwakarta, Solo, Malang.

Banyak yang bertanya pada kami, “ Sering gak sih lo dapet terror?” Jika mendapat terror sering, bahkan menjadi makanan kami sehari-hari Bahkan sudah ada tiga anggota kami yang menjadi korban pengroyokan oknum-oknum. namun itu tidak membuat kami mundur sejengkal pun dalam mendukung Persija. Namun dibal;ik terror tentu ada hal-hal yang menyenangkan juga untuk dikenang. Misalnya. :

Pertama, tidak semua teman kami yang menjadi anggota xxxxxx memusuhi kami, bahkan tidak jarang beberapa diantara kami bersahabat. Sebut saja Andi, Andi berteman dengan salah satu ketua xxxxxx distrik salah satu universitas negeri di Bandung. Di organiasi mereka memang musuh, tetapi di luar itu mereka adalah dua orang teman yang saling menghormati. Kedua sebut saja Rizal, sebentar lagi Rizal akan membuat film Romie and Juliet menjadi kenyataan dimana ia akan mempersunting gadis xxxxxx dan masih banyak kisah dan kenangan indah dan pahit lainnya yang tidak bisa dilukiskan melalui kata-kata. Tetapai hanya bisa dilukiskan lewat tangisan dan senyuman di hati ini.

Namun yang membuat kami miris bukan karena mendapaat terror, tetapi ketika mendengar saudara-saudara kami di Jakarta saling baku hantam. Lucu memang, ketika kami dan mungkin the jak lainnya yang ada di daerah rawan seperti di Utara, Karawang, Cikarang, Cikampek dan Purwakarta bersusah payah mengibarkan panji-panji orange, malah saudara kami di Jakarta saling baku hantam. Hanya penyesalan dan air mata kesedihan yang ada di dalam pikiran kami.Namun Apapun yang terjadi kami akan selalu setia untuk mendukung Persija Jakarta.

SEMANGAT KALIAN SEMUA DI JAKARTA ADALAH SEMANGAT KAMI, NYANIYAN KALIAN ADALAH NANYIAN KAMI, KEMENANGAN KALIAN ADALAH KEMENANGAN KAMI, KEKALAHAN KALIAN ADALAH KEKALAHAN KAMI, TETAPI KEMENANGAN KALIAN DALAM MENGHABISI SESAMA ORANGE ADALAH TANGIS BUAT KAMI

DIAM BUKAN BERARTI TAKUT, EKSIS BUKAN UNTUK KESOMBONGAN, KEBERANIAN DAN KEMATIAN HANYA MILIK TUHAN. PERSIJA UNTIL DIE.